7.27.2013

Semboyan Dana Mbojo

MAJA LABO DAHU

Maja Labo Dahu merupakan falsafah kehidupan yang mengandung nilai-nilai luhur yang dijadikan pedoman oleh Pemerintah dan seluruh masyarakat. Nilai-nilai luhur yang bersumber dari Maja Labo Dahu ialah

1.Tohompara nahu sura dou labo danana
2.Edera Nahu sura dou Marimpa
3.Renta ba rera, kapoda ba ade karawi ba weki
4.Nggahi Rawi Pahu

Keempat nilai luhur dari Maja Labo Dahu disebut di atas pada hakekatnya merupakan perpaduan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Sangaji dan rakyat harus melaksanakan falsafah secara utuh dan konsekuen. “Tahompara nahu sura dou labo dana” yang berarti “biarkan aku menderita asalkan demi rakyat dan negara”. Falsafah tersebut mampu mengobarkan semangat pengabdian rakyat terhadap Kesultanan Bima sampai pada pelaksana pemerintah. Penerapan falsafah berikut, yakni “Edera nahu sura dou marimpa”, yang berarti “saya (Sultan) tidak penting (bukan yang utama), yang utama dan penting adalah masyarakat secara keseluruhan”.

Falsafah ini pada hakekatnya mewajibkan sultan untuk memperhatikan kepentingan rakyat banyak tanpa mempedulikan kepentingan pribadi atau golongannya. Dalam menjalankan tugas sehari-hari para Raja, Sultan dan seluruh masyarakat harus berpedoman pada nilai-nilai luhur “Nggahi Rawi Pahu” yang mengandung pengertian bahwa apa yang telah diikrarkan harus dapat diwujudkan menjadi kenyataan.

Mereka secara konsekuen melakukan tugas, agar mampu mewujudkan tujuan yang telah disepakati. Bila gagal berarti ada di antara mereka yang melanggar nilai falsafah “Renta ba rera kapoda ba ade karawi ba weki” yang berarti “yang telah diikrarkan oleh lidah yang bersumber dari hati nurani, harus mampu dikerjakan dan dilaksanakan oleh raga dan jasmani”.Jika kita cermati secara seksama, ternyata falsafah Pancasila belum ada apa-apanya dibanding pengabdian dan penerapan falsafah Maja Labo Dahu tersebut di masa silam,

bahkan kelahiran falsafah Maja Labo Dahu tersebut lebih dulu dan jauh melampaui dibanding masa kelahiran falsafah Pancasila yang kita kenal sekarang ini.Falsafah tersebut telah mengejewantah dan telah menjadi nilai-nilai luhur yang menjadi dasar pemerintahan pada masa lalu, yang wajib diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan nyata masyarakat Bima hingga saat ini. Kesuksesan dan kejayaan yang berhasil dirangkul Kesultanan Bima di masa lalu merupakan buah nyata penerapan falsafah tersebut, terutama dalam mengimbangi, menyaingi, dan mengungguli kerajaan-kerajaan lain di seluruh negeri. Berkat penerapan falsafah tersebut pula, kompeni Belanda berhasil diusir dari tanah Bima untuk selamanya. Semoga, falsafah tersebut masih membara, membakar semangat juang rakyat Bima kapan dan di mana pun berada, untuk menggapai kejayaan dan kegemilangan masyarakat dan tanah Bima hari ini dan ke depan, serta kejayaan dan kegemilangan bangsa Indonesia tercinta. Amin... 

7.24.2013

Menelusuri Jejak Kerajaan Sanggar-Kore

Sanggar adalah satu dari tiga kerajaan yang berada di lereng Gunung Tambora. Dua kerajaan lainnya, yaitu Tambora dan Pekat, yang disebut dalam berbagai literatur telah musnah akibat letusan tersebut.
Menelusuri Jejak Kerajaan Sanggar-Kore

Kini, Sanggar adalah nama kecamatan yang tidak gampang ditemukan dalam peta Nusantara. Letaknya jauh di Pulau Sumbawa, kalah terkenal dengan Bima atau Tambora yang melegenda. Tapi, di sinilah sejarah peradaban yang nyaris tamat akibat kedasyatan lahar panas Gunung Tambora masih bisa ditemukan sisanya.dan sampai saat ini pula belum ada yang bisa memecahkan atau meneliti tentang bahasa kore atau di kenal dengan bahasa Non-Austronesia dengan alasan paling mendasar adalah bahasa tersebut bersama penuturnya telah musnah akibat letusan gunung api raksasa tahun 1815” yaitu Tambora. Upaya mengungkap peradaban masa lalu di Semenanjung Sanggar memang tak gampang, karena masyarakat Sanggar yang tersisa saat ini seperti tercerabut dari akar budaya mereka sendiri. Jejak peradaban di Semenanjung Sanggar, lebih banyak muncul dalam bentuk artefak dan tulang-belulang yang terkubur material letusan Gunung Tambora hampir 200 tahun lalu, dan baru mulai digali kembali pada 2004 oleh Haraldur Sirgurdsson, vulkanolog dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat.

Penggalian yang kemudian diteruskan para arkeolog Indonesia hingga saat ini. Namun, upaya merekonstruksi peradaban masa lalu ini masih sulit karena luasnya area yang tertutup awan panas sangat luas, dibandingkan upaya penggalian yang ”hanya” mencapai 25 meter persegi tiap tahunnya. berbicara masalah kerajaan sanggar,tentu tidak lepas dengan leganda yang berkembang di daerah Sanggar yaitu legenda Putri Dae Minga Dalam cerita rakyat Sanggar, Dae Minga adalah putri cantik dari Kerajaan Sanggar yang rela dibuang ke kawah Gunung Tambora demi mencegah peperangan, karena dia menjadi rebutan pangeran kerajaan-kerajaan sekitarnya. Legenda ini diyakini hingga kini dan semakin menguatkan hubungan antara Sanggar modern dengan ”kerajaan gaib” Tambora di puncak Gunung Tambora.

Beberapa cerita tentang adanya kerajaan di puncak Gunung Tambora itu banyak diwartakan para pencari madu dan pencari kayu dari Sanggar. ”Kakek saya, Goni, pernah hilang enam bulan di Gunung Tambora, pulangnya dia menceritakan adanya kerajaan dengan masyarakatnya yang sejahtera dan lebih maju dari kita,” kisah Suhada. ”Ketika pulang, ada lubang di telinga kakek saya itu.” Tak hanya kakek Suhada, para pencari madu di lereng Gunung Tambora sering membawa kisah seperti ini, yang menunjukkan hubungan yang kuat antara orang Sanggar dengan peradaban Semenanjung Sanggar sebelum letusan. Temuan alat tenun yang telah menjadi arang di lubang penggalian bekas Kerajaan Tambora di Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Bima, semakin mengonfirmasi hal itu. Lira atau bilah kayu asam untuk menenun yang warnanya hitam kelam dan alat pemintal benang yang disebut janta, yang masih dimiliki Suhada dan diwarisinya dari leluhurnya, menunjukkan kesamaan dengan alat tenun yang digali para arkeolog. ”Sampai sekarang, masih banyak yang menyimpan alat tenun ini walau sebagian sudah rusak. Bagi perempuan Sanggar, alat tenun ini hingga kini masih dianggap sebagai senjata.

Kami juga punya tarian yang melambangkan perempuan-perempuan menggunakan lira sebagai senjata,” kata Suhada. Selain alat tenun, warga juga meyakini lesung berusia ratusan tahun di Desa Boro, Kecamatan Sanggar, sama bentuknya dengan yang ada di Tambora. Warga Sanggar secara rutin masih memainkan lesung itu dalam pertunjukan Kareku Kandei di berbagai acara hajatan. Dari temuan Balai Arkeologi Denpasar, yang dipimpin Made Geria, di lubang ekskavasi Oi Bura, menunjukkan bahwa beberapa temuan di sana memang mengindikasikan ada kemiripan antara Tambora dan Sanggar. Bahkan, tim peneliti ini sering mendiskusikan berbagai temuan di lubang penggalian ke salah satu warga Sanggar yang masih paham soal budayanya, As’ad (32), seorang guru di SMAN 1 Sanggar. ”Kemiripan yang ditemukan seperti alat tenun, sama yang ditemukan di Desa Boro, di alat tenun itu biasanya disimpan benang menggunakan anyaman dengan daun lontar. Ditemukan juga lesung, ukirannya sama dengan di Kore, Sanggar,” kata As’ad. Ukiran di pojok dinding rumah yang ditemukan di lubang ekskavasi juga sama dengan rumah di Sanggar. ”Model rumah panggung juga sama, rumah panggung dengan enam tiang yang disebut pa’a sekolo,” kata As’ad. Kesamaan benda-benda arkeologis di lubang galian Kerajaan Tambora dengan barang yang dimiliki warga Sanggar saat ini menguatkan, adanya anyaman sejarah di antara keduanya. Jika tulang-belulang dan berbagai artefak yang ditemukan di lubang galian Desa Oi Bura adalah bukti mati yang berkisah, kehidupan di Sanggar adalah artefak yang hidup.

Keduanya, sama-sama penting untuk diungkap lebih lanjut oleh para peneliti untuk membuktikan keberadaan peradaban yang terkubur oleh letusan sebuah gunung berap hasil penggalian di Lereng gunung tambora

Asal Mula Meletusnya Gunung Tambora 1815

Di kaki gunung Tambora, tepatnya di sebelah barat berdiri sebuah kerajaan besar. Kerajaan itu bernama Tambora. Rajanya bernama Rangga Mandara yang memerintah berdasarkan adat dan kebiasaan turun temurun dari nenek moyangnya. Kerajaan dan rakyat Tambora hidup dan dibesarkan dari kekayaan alam negerinya. Sedangkan di sebelah selatan berdiri kerajaan Pekat. Di sebelah utara sampai ke arah timur berdiri kerajaan Aga, Cempaka dan Sanggar. Kerajaan-kerajaan itu memiliki batas-batas wilayah yang telah diatur dan disepakati secara turun temurun dari zaman ke zaman.
ilustrasi meletusnya gunung tambora


Hampir setiap hari para pelaut dan pedagang berlabuh di kerajaan Tambora. Ada yang tinggal untuk beberapa saat lamanya. Ada pula yang tinggal dalam kurun waktu yang lama. Tanpa terasa kerajaan Tambora menjadi ramai oleh para Pelaut dan Saudagar dari berbagai negeri.

Pada suatu ketika rakyat Tambora dikejutkan dengan datangnya beberapa perahu yang mengangkut puluhan orang yang baru pernah mereka lihat. Pakaian orang-orang itu sangat berbeda dengan pakaian yang dikenakan para pedagang dan pelaut yang selama ini mereka lihat. Orang-orang itu berpakaian serba putih dan bersorban. Rata-rata mereka berjenggot dengan roman muka yang putih bersih

” Mohon maaf tuan-tuan, kalau boleh kami tahu dari manakah asal tuan-tuan ?” Salah seorang pemuka adat menyapa tamu barunya itu.
” Kami berasal dari negeri yang jauh.” Orang-orang itu menjawab singkat.
” Negeri Yang Jauh ?” Salah seorang warga keheranan.
” Yah…. Kami berasal dari beberapa negeri dan kerajaan. Tapi sebgian besar dari kami berasal dari tanah Makassar dan Sumatera. ” Orang asing itu menjelaskan asal usul mereka.
” Apakah gerangan maksud tuan-tuan kemari ?” Pemuka adat itu ingin tahu.

” Kami datang sebagaimana saudara-saudara kami dari negeri lainnya. Tujuan kami sama dengan mereka yaitu untuk berdagang.” Orang asing itu menjelaskan maksud kedatangannya sambil menunjukkan barang-barang dagangan mereka.

Orang-orang yang ada di tepi pantai itu berjubel melihat barang-barang dagangan yang dibawa orang-orang asing itu. Mereka sangat tertarik menukar hasil bumi Tambora dengan kain-kain dan perlengkapan bertani, berkebun dan melaut yang dibawa orang-orang itu. Semakin lama semakin banyaklah orang-orang yang membeli kain-kain yang dibawa orang-orang berjubah itu dengan cara menukar barang dengan barang.
Ada yang menukar beberapa ikat padi dengan kain. Ada pula yang menukar dengan binatang seperti Kuda dan Rusa maupun madu putih dan madu merah. Lama kelamaan mereka saling kenal mengenal dan semakin akrab. Suasana kekeluargaan menyelimuti kehadiran orang-orang berjubah itu. Mereka dipersilahkan oleh beberapa warga untuk menginap di rumah-rumah warga.

Namun ada hal yang unik yang terus diamati oleh warga dari orang-orang yang berjubah itu. Mereka selalu mengerjakan ritual ibadah yang sangat berbeda dengan kebiasaan mereka. Sebelum matahari terbit mereka melakukan ritual ibadah dengan cara bersama-sama dan dipimpin oleh salah seorang yang tertua di antara mereka. Jika yang di depan berdiri maka berdirilah rekannya di belakang, demikian pula jika yang di depan ruku dan sujud serta menengadahkan tangan ke arah langit.

Kebiasaan seperti itu terus dilakukan oleh orang-orang yang berjubah itu sebanyak lima kali sehari semalam. Yaitu pada saat sebelum matahari terbit. Siang hari ketika matahari tegak di atas kepala, sore hari menjelang matahari terbenam di ufuk barat, setelah matahari terbenam dan pada malam harinya. Dan tidak hanya itu saja mereka membuka sebuah buku tebal dan melantunkan secara bersama-sama.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang berjubah itu mendapat perhatian warga sekitar. Saban hari mereka terus mengamati kegiatan orang-orang berjubah itu. Ada juga beberapa di antara warga yang mencoba meniru ketika orang-orang yang berjubah itu melakukan ritual.

Pada suatu malam, kepala kampung dan beberapa orang warga mendatangi orang-orang yang berjubah itu. Mereka ingin menanyakan apakah maksud dari kebiasaan dan ritual ibadah yang saban hari mereka lakukan.

” Mohon maaf tuan-tuan, kami pingin sekali mengetahui ajaran apakah gerangan yang sedang tuan-tuan lakukan ini ? Kepala kampung menemui orang berjubah itu seusai melakukan kegiatan ibadahnya.

” Oh…. Baiklah tuan-tuan. Dengan senang hati kami menyampaikan kehadapan tuan-tuan. ” Sembari tersenyum salah seorang mempersilahkan orang-orang itu untuk bergabung dengan mereka.

” Apakah yang dilakukan tuan-tuan ini agama baru ?” Salah seorang pemuda penasaran. 

” Betul sekali anak muda. ” Salah seorang yang memperbaiki sorbannya menjawab. 

” Agama kami bernama Islam. Kami menyembah hanya kepada Allah SWT, tuhan bagi seru sekalian alam. Agama Islam telah lama berkembang di zazirah Arab dan bahkan sampai ke Eropa.

” Siapa yang pertama kali membawa agama ini kepada tuan-tuan ?” Kepala Kampung denga
n roman muka yang serius kembali bertanya.

” Ceritanya panjang tuan. Allah SWT menurunkan wahyu-Nya kepada para Nabi dan Rasul sebagai pembawa risalah-Nya. Nabi  terakhir yang menyempurnakan agama ini adalah Baginda Nabi Muhammad Salallahu Alaihihawassalam yang selanjutnya disebarluaskan oleh para sahabat dan pengikut setianya hingga saat ini. ” Kepala kampung dan anggotanya manggut-manggut.

” Berarti apa yang kami lakukan selama ini dengan menyembah batu, menyimpan sesajian di pohon-pohon besar  itu salah dan bertentangan dengan ajaran tuan-tuan.” Kepala kampung menjelaskan ajaran-ajaran neneka moyangnya.

” Betul sekali tuan-tuan. Kami juga menganut ajaran yang hampir sama dengan tuan-tuan sebelum memeluk Islam. Orang-orang di zazirah Arabpun dulunya menjalankan ajaran nenek moyangnya. Kami pun sadar bahwa benda-benda, roh-roh yang kami agungkan dulu hanyalah ciptaan Allah SWT yang maha pencipta, maha kuasa, maha pengasih dan maha penyayang. “

” Seluruh isi alam ini adalah ciptaan-Nya dan tidak ada yang serupa dengan Dia.

 ” Orang-orang yang berjubah itu serentak menambahkan dan memberikan penjelasan.
Kepala Kampung dan anggotanya hanya terdiam. Tampaknya apa yang dijelaskan orang-orang yang berjubah itu masuk di akal mereka.

” Maukah tuan-tuan mengikuti ajaran kami ?” Salah seorang yang berjubah itu mengajak sambil tersenyum.

” Apa syarat-syaratnya tuan ?” Kepala kampung tambah penasaran.

” Hanya dengan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat sebagai sebuah ikrar yang tulus bahwa tuan-tuan bersaksi bahwa Tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan-Nya. “

” Hanya itu saja ?” Salah seorang pemuda langsung menyambut persyaratan yang menurut mereka amat mudah untuk dilakukan.

” Syarat-sayarat lainnya ?” Kepala Kampung menyambung pertanyaan anak muda tadi.

” Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.”

” Apa maksudnya tuan ?”
 
” Berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul serta menjauhi larangan-larangannnya.”

” Apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan ?”

” Mengerjakan shalat seperti yang saban hari kami lakukan, mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa, saling tolong menolong dalam kebaikan, mengerjakan haji ke tanah suci Mekkah apabila mampu.

” Lalu yang dilarang itu apa saja ?”

” Berzina, berjudi, minum-minuman yang memabukkan, menyembah berhala dan yang diingat adalah kita harus memakan dan minum makanan-makanan yang halal menurut islam. “

” Apakah makanan-makanan yang halal menurut Islam ?”

” Hampir semua makanan yang ada di kerajaan Tambora ini halal untuk dimakan. Tapi mohon maaf tuan-tuan. Ada beberapa binatang yang tidak boleh dimakan dan dilarang dalam islam.”
” Contohnya apa tuan-tuan ?”

” Babi dan Anjing sangat dilarang. Sementara kebiasaan tuan-tuan di sini memakan daging-daging binatang itu. ” Pimpinan orang-orang yang berjubah itu dengan tegas menjelaskan bahwa Babi dan Anjing itu dilarang.

” Dan setiap binatang buruan seperti Rusa, kambing, kerbau, Sapi, ayam, bebek dan itik harus disembelih dengan menyebut nama Allah. Setiap kita memulai kegiatan apa saja harus dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim( Dengan Menyebut Nama Allah).”

” Kalau begitu kami telah sepakat dan semufakat untuk masuk dan bergabung dengan agama tuan-tuan. Kami tidak akan lagi memakan daging babi dan anjing. “

Malam itu juga kepala kampung dan beberapa pemuda secara resmi memeluk Islam. Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun orang-orang-orang berjubah itu.
Waktu terus bergulir. Kian lama masyarakat Tambora terutama yang tinggal di wilayah pesisir memeluk agama Islam. Pimpinan orang-orang yang berjubah itu mereka panggil dengan nama Kiyai Saleh.

Demikian pula anggota-anggotanya dipanggil pula dengan nama Kiyai. Yang bernama Anwar dipanggil Kiyai Anwar. Yang bernama Amin dipanggil dengan nama Kiyai Amin. Begitu juga dengan yang lainnya.

Pengikut ajaran Kiyai Saleh semakin banyak. Mereka sepakat secara bergotong royong membangun tempat ibadah. Namun ada pula yang tidak setuju dan tidak sejalan dengan ajaran Kiyai Saleh. Mereka adalah orang-orang yang merasa sangat sulit untuk melupakan dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama seperti menyembah batu, pohon-pohon besar dan memakan daging anjing dan babi.

Bagi mereka ajaran Kiyai Saleh sangat membatasi gerak gerik mereka. Sehingga mereka pun sepakat untuk menolak ajaran itu. Dengan berbagai cara mereka menghalang-halangi rekan-rekannya yang ingin menemui Kiyai Saleh untuk memeluk agama Islam.

Hingga pada suatu hari mereka menghadap Raja Rangga Mandara untuk mengemukakan kekhawatiran mereka.

” Ampun beribu ampun Baginda, Kegiatan ibadah yang dilakukan Kiyai Saleh sangat meresahkan.

” Tidak hanya itu saja Baginda. Ajaran Kiyai Saleh melarang memakan Babi dan Anjing.” Warga lain menyambung.

” Wah…. Berbahaya Baginda. Masa Makanan yang enak-enak dilarang

.” Salah seorang pejabat kerajaan terus memancing suasana.

” Apa benar yang kalian omongkan itu ?” Raja Rangga Mandara  bertanya balik.

” Ampun beribu ampun baginda, apa yang kami kemukakan itu tidak berbeda dengan dengan yang kami lihat. ” Warga itu terus meyakinkan rajanya.

” Baiklah. Kalau begitu panggil Kiyai Saleh untuk menghadap.

 ” Demikian titah Raja Rangga Mandara.
Beberapa hari kemudian Kiyai Saleh ditemani beberapa pengikutnya dan warga yang baru saja memeluk Islam menghadap Istana Kerajaan Tambora.Di sebuah tempat yang telah disiapkan, Raja Rangga Mandara didampingi para pejabat kerajaan menjamu Tamunya itu.

” Silahkan duduk. Cicipilah buah-buahan dan makanan khas Tambora.” Raja Rangga Mandara mempersilahkan Rombongan Kiyai Saleh untuk mencicipi berbagai jenis buah-buahan dan kue-kue yang telah disajikan di atas hamparan permadani yang bersih, wangi dan indah.

” Terima kasih Baginda. Syukur Alhamdulillah, karena baru pada hari ini kami dapat bertatap muka sekaligus bersilaturahim dengan Baginda. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada baginda dan seluruh rakyat Tambora ini. 

” Demikian Doa Kiyai Saleh mengawali pembicaraan dengan Raja Rangga Mandara.

” Terima kasih atas untaian doa yang disampaikan tuan Kiyai. Meskipun kata dan kalimat itu masih sangat asing di telinga saya.” Sambut Raja Rangga Mandara atas doa Kiyai Saleh.

” Sudah menjadi kewajiban kami untuk mendoakan manusia dan seisi alam ini. Karena Agama Islam yang kami anut adalah agama yang rahmatan lil alamin.” Kiyai Saleh menambahkan sambil memperkenalkan ajaran Islam keapda Raja Rangga Mandara.

Sejenak suasana hening. Raja Rangga Mandara dan pejabat kerajaan kembali mempersilahkan Kiyai Saleh untuk mencicipi buah-buahan dan makanan yang berada di hadapan mereka. Mereka sama-sama menyantap makanan itu.

” Saya mendapat laporan dari para pejabat kerajaan dan warga bahwa agama Tuan Kiyai mengharamkan Babi dan Anjing. Apa benar tuan ?” Raja Rangga Mandara bertanya kepada Kiyai Saleh sambil mencicipi sepotong kue.

” Betul sekali Baginda. Dalam ajaran agama Islam daging Babi dan Anjing itu dilarang.”

” Kenapa ?” Raja Rangga Mandara mengerutkan keningnya.

” Disamping melanggar ketentuan dan syari’at yang telah digariskan oleh Allah SWT juga tidak baik bagi tubuh kita. ” Kiyai Saleh menjelaskan.

” Tapi daging-daging itu enak dan selama ini tidak ada rakyat di kerajaan ini yang sakit karena makan daging Babi dan Anjing.”

Peryataan Raja Rangga Mandara itu disambut dengan gerutu para pejabat kerajaan yang tidak setuju dengan penjelasan Kiyai Saleh yang mengharamkan daging Babi dan Anjing kesukaan mereka.

” Itulah ketentuan Islam Baginda. Allah SWT telah menciptakan alam dan segala isinya untuk manusia. Tapi ada ketentuan-ketentuan yang dilarang-Nya. Semua itu demi kebaikan dan kemaslahatan Ummat manusia. Dengan setengah berdakwah Kiyai Saleh membalas gemuruh gerutu para pejabat kerajaan itu.

Pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa. Kiyai Saleh dan pengikutnya pamit karena tidak tahan mendengar ucapan-ucapan serta sindiran yang disampaikan para pejabat kerajaan. Namun meski demikian Raja Rangga Mandara mengantar tamunya itu sampai ke pelataran Istana.

Sepeninggal Kiyai Saleh, Raja Rangga Mandara duduk menyendiri di dalam kamarnya. Sepertinya ia tertarik dengan ajaran dan kata-kata Kiyai Saleh. Satu persatu ucapan Kiyai itu diingatnya. Sementara seiring waktu bergulir, pengikut ajaran Kiyai Saleh semakin bertambah. Berhari-hari lamanya Raja Rangga Mandara larut dalam pemikiran dan pertimbangan. Hingga ia harus berembuk dengan para pejabat kerajaan dan pembantu-pembantunya.

” Mohon ampun Baginda, tidak baik kita meninggalkan ajaran nenek moyang kita hanya karena ajaran baru yang dibawa Kiyai Saleh itu. ” Salah seorang pejabat kerajaan memberikan pertimbangan.

” Betul sekali baginda, apalagi ajaran itu justru melarang memakan daging anjing yang menjadi kesenangan baginda dan kita semua. ” Pejabat lain mendukung. Rupanya mereka tidak rela rajanya mengikuti ajaran Kiyai Saleh.

” Begini saja baginda. ” Salah seorang yang baru bergabung dalam rapat itu mendekat ke arah Raja Rangga Mandara.

” Apa yang ingin kau usulkan ?” Raja Rangga Mandara ingin sekali tahu usulan pejabatnya yang satu ini. Karena kelihatannya ada hal penting yang ingin disampaikannnya.
Lalu orang itu mendekat ke arah telinga Rajanya. Dia membisikkan sesuatu. Lalu Raja Rangga Mandara menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju atas usulan yang dibisikkan itu.

” Baiklah. Kita adakan kenduri besar-besaran.  Undang Kiyai Saleh beserta pengikutnya….!

” Kenduri……… ? ” Para pejabat kerajaan menyambut rencana rajanya dengan roman muka kegembiraan.

” Yah…. Siapkan binatang-binatang buruan seperti rusa, kerbau, kambing dan juga anjing. Kita berpesta pora dengan Kiyai Saleh. ” Raja Rangga Mandara memerintahkan para pejabatnya.

” Tapi bagaimana jika Kiyai Saleh tahu bahwa ada daging anjing juga yang menjadi santapan dalam kenduri nanti ?” Salah seorang pejabat kerajaan mengajukan keberatan.

” Ah… Nggak usah dikasih tahu. Awas kalau sampai ada yang memberi tahu. Bilang saja bahwa ada kenduri besar yang diadakan Baginda Raja. Dan daging yang dijadikan makanan adalah daging kerbau atau rusa. ” Pejabat yang menguping Raja Gafur tadi mengancam rekan-rekannya.

Pada hari yang telah ditentukan kenduri besar-besaran itu dilaksanakan. Kiyai Saleh beserta pengikutnya hadir di tempat itu selepas menunaikan shalat Isya berjama’ah. Dari aromanya saja makanan-makanan yang disuguhkan itu sudah terasa lezat. Dan ditambah lagi setelah mereka menyantap masakan itu. Kiyai Saleh dan para pengikutnya pun menyantap makanan itu dengan lahap
.
Tanpa rasa curiga sedikitpun Kiyai Saleh mengambil daging anjing yang sudah dicampur dengan daging kerbau serta rusa. Raja Rangga Mandara dan pejabat kerajaan tersenyum dan saling memandang wajah masing-masing yang menandakan bahwa jebakan dan tipu daya mereka berhasil.

Setelah semua orang menyantap makanan yang berlimpah jumlahnya itu, Raja Rangga Mandara bertanya kepada Kiyai Saleh.

” Wahai Tuan Kiyai, Bagaimana rasanya masakan yang kami suguhkan ?”

” Luar Biasa Baginda. Terima kasih atas jamuan yang disuguhkan baginda malam ini. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan karunia-Nya kepada Baginda dan seluruh rakyat Tambora.” Kiyai Saleh memuji Raja Rangga Mandara seraya mendoakan raja Tambora itu.

” Di antara daging yang lezat-lezat itu tuan Kiyai, terdapat Daging Anjing yang tuan haramkan. ” Ucap Raja Rangga Mandara dan disambut gelak tawa para pejabatnya.
Wajah Kiyai Saleh dan pengikutnya merah seketika. Kiyai Saleh berdiri dan menunjuk ke wajah Raja Rangga Mandara.

” Terkutuklah Kau Wahai Raja Rangga Mandara bersama rakyatmu yang telah membuat tipu daya ini. Ketahuilah bahwa Allah SWT Maha Membuat Tipu Daya. Cepat atau lambat kerajaan ini akan tenggelam selama-lamanya. “

Kiyai Saleh dan pengikut setianya meninggalkan tempat Kenduri. Mereka terus berjalan menyusuri kaki gunung Tambora menuju ke arah selatan. Dengan raut wajah sedih seraya bermunajat kepada Allah SWT agar diampunkan dari segala dosa karena telah menyantap daging anjing yang dilarang dalam agama Islam, mereka terus berjalan menelusuri kegelapan malam.

Tepat waktu shalat subuh, Kiyai Saleh dan seluruh pengikutnya tiba di sebuah teluk di sisi selatan gunung Tambora.  Mereka mengambil air laut untuk berwudhu. Lalu mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dalam doa-doa yang dipanjatkan usai shalat subuh, Kiyai Saleh memohon kepada Allah SWT agar Raja Rangga Mandara dan rakyatnya yang telah membuat tipu daya itu dibinasakan.
” Ya Allah penguasa seluruh jagat. Tunjukkannlah kekuasaan-Mu atas tipu daya yang diberikan Raja Gafur beserta pengikutnya kepada Kami. Tenggelamkanlah kerajaan  itu untuk menjadi  peringatan kepada generasi mendatang bahwa keangkuhan, Tipu daya dan fitnah hukumannya adalah kebinasaan.”

Hingga terbit matahari, Kiyai Saleh dan Pengikut-Nya terus mengucap Doa-Doa. Sebuah Gempa Bumi yang teramat dahsyat mengguncang kerajaan Tambora. Sebuah letusan yang maha Dahsyat dimuntahkan dari puncak gunung Tambora. Dunia menjadi gelap gulita di pagi yang sebelumnya cerah. Secepat kilat banjir lahar menerjang ke segala penjuru.
Istana Kerajaan Tambora luluh lantah, orang-orang lari berhamburan dikejar banjir lahar itu. Air laut naik ke daratan menenggelamkan semua yang ada. Dalam sekecap kerajaan Tambora tenggelam bersama lahar dari Gunung Tambora dan air laut yang terus menerjang meluluhlantahkan seisi kerajaan.

            Kini kerajaan Tambora tinggal kenangan. Orang-orang hanya melihat padang pasir dan hamparan savanna yang luas mengitari gunung Tambora di ujung timur tanah Bima. Keangkuhan dan Tipu daya telah membinasakan sebuah kerajaan yang makmur dan tentram itu. Allah SWT Maha Kuasa atas segala yang diciptakan-Nya. Hingga saat ini teluk tempat Kiyai Saleh dan pengikutnya berdoa dinamakan Teluk Saleh.


semoga bermanfaat...
salam Histori...

7.23.2013

Rimpu Mpida,Budaya Mbojo Hampir punah

Rimpu Mpida
Bima merupakan salah satu Kerajaan islam tersohor di Indonesia bagian Timur. Kesohorannya hingga pernah berstatus swapraja. swapraja adalah wilayah yang memiliki hak pemerintahan sendiri. selama kurun waktu 5-6 tahun dan hingga kini masih didapati bukti dan peninggalannya. Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya. Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya rimpu, sebuah identitas kemusliman yang hingga kini nyaris kehilangan makna.

Rimpu merupakan busana adat harian tradisional yang berkembang pada masa kesultanan, sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima. Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640. 

Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan masuknya Islam ke Kabupaten ini bermotokan Maja Labo Dahu.Pedagang Islam yang datang ke Bima terutama wanita Arab menjadi inspirasi kuat bagi wanita Bima untuk mengidentikkan pakaian mereka dengan menggunakan rimpu.

Menurut sejarawan Bima, M. Hilir Ismail, keberadaan rimpu juga tak lepas dari upaya pemerintah (masa Sultan Nuruddin) untuk memanfaatkan kain sarung atau kain tenun Bima yang sudah lama dikenal bahkan menjadi komoditi perdagangan dunia yang sangat laris sekitar abad 13 lampau. Sebab, pada masa itu,orang bima (dou mbojo) memanfaatkan melimpahnya tanaman kapas untuk dijadikan kain tenun yang menjadi komoditi perdagangan yang terjual hingga ke negeri Cina. Sejak saat itu, semua wanita yang sudah akil baliq diwajibkan memakai rimpu apabila hendak bepergian meninggalkan rumah dan keluarganya untuk sesuatu urusan. Kalau tidak, berarti sudah melanggar hukum agama dan adat pada saat itu. “Hukumannya lebih kepada hukuman moral. Orang yang melanggar dengan sendirinya akan merasa malu”, ujarnya.

Keterangan Hilir diperkuat lagi oleh Nur Farhaty Ghani, dari Forum Perempuan (ForPuan) Bima. Menurutnya, rimpu merupakan bagian dari identitas wanita Bima pada masa Islam baru berkembang di Bima. “Zaman dulu, wanita Bima dengan bangga memakai rimpu untuk menunjukkan ke khalayak bahwa mereka sudah bisa menenun dan kain yang mereka gunakan adalah hasil karya sendiri,” paparnya. Menurutnya, memakai rimpu pada masa itu semacam show (pertunjukan). “Ini lah kain hasil tenun saya. Saya sudah bisa menenun,” contohnya.

Keeratan hubungan rimpu dengan perkembangan islam pada masa itu tampak jelas. Dari keterangan pelaku sejarah, wanita Bima yang hidup pada masa itu memandang tersingkapnya aurat mereka sebagai aib. Siapapun lelaki baik sengaja atau tidak melihat aurat mereka, pria tersebut wajib menikahinya. “Dengan tersingkapnya betis saja, wanita zaman dulu sudah merasa malu dan segera minta nikah. Mereka menganggap itu sebagai bentuk pelecehan (aib) terhadap wanita,” paparnya. 

Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua lembar sarung yang bertujuan untuk menutup seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk mernutup kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok. Sesuai penggunaannya, rimpu bagi kaum wanita di Bima dibedakan sesuai status. Bagi gadis, memakai rimpu mpida—yang artinya seluruh anggota badan terselubung kain sarung dan hanya mata yang dibiarkan terbuka. Ini sama saja dengan penggunaan cadar pada kaum wanita muslim. Caranya, sarung yang ada dililit mengikuti arah kepala dan muka kemudian menyisakan ruang terbuka pada bagian mata. Sedangkan bagi kaum wanita yang telah bersuami memakai rimpu colo. Dimana bagian muka semua terbuka. Caranya pun hampir sama. Sedangkan untuk membuat rok, sarung yang ada cukup dililitkan pada bagian perut dan membentuknya seperti rok dan kemudian mentangkupkan pada bagian kanan dan kiri pinggang.

Adanya perbedaan penggunaan rimpu antara yang masih gadis dengan yang telah bersuami, secara tidak langsung menjelaskan pada masyarakat terutama kaum pria tentang status wanita pada zaman itu. Bagi kaum pria terutama yang masih lajang, melihat mereka yang mengenakan rimpu mpida merupakan pertanda baik. Apalagi, jika pria lajang tersebut sudah berkeinginan untuk segera berumah tangga. Dengan sendirinya, pria-pria lajang akan mencari tau keberadaan gadis incarannya dari sarung yang dikenakannya.

Seiring perkembangan zaman, keberadaan rimpu hampir terlupakan. Malah, beberapa tahun terakhir, sebagian besar masyarakat Bima yang beragama Islam beralih mengenakan jilbab dengan trend mode yang bermunculan. Parahnya, generasi-generasi sekarang sudah banyak yang tak mengenal rimpu. Kalaupun ada, mereka tak mengerti cara penggunaannya. Wanita Bima masa kini menganggap orang yang mengenakan rimpu sebagai wanita kolot dan kampungan.

Saat ini, wanita Bima yang mengenakan Rimpu masih bisa ditemukan di daerah-daerah seperti di Kecamatan Wawo, Sape, Lambitu, Wilayah Kae (Palibelo, Belo, Woha dan Monta), juga di Kecamatan Sanggar dan Tambora Kabupaten Bima.

Tidak ada alasan untuk tidak melestarikan budaya rimpu ini dan sudah sepatutnya ada sebuah kebijakan yang menunjang pelestariannya. Pemerintah Bima seharusnya mulai memikirkan upaya teresbut, paling tidak sebuah kebijakan pada hari tertentu agar wanita Bima mengenakan busana harian Rimpu patut dipertimbangkan sehingga berdampak pula pada peningkatan pendapatan sektor industri rumahan khususnya tenunan tradisional Bima.









7.22.2013

Uma Lengge Warisan budaya Mbojo

uma lengge
Di Kabupaten Bima terdapat rumah tradisional yang disebut “Uma Lengge”. Uma berarti rumah dan lengge berarti mengerucut/pucuk yang menyilang. Uma lengge merupakan rumah tradisional peninggalan nenek moyang suku Bima.

Secara umum struktur uma lengge berbentuk kerucut setinggi 5 cm sampai 7 cm, bertiang 4 dari bahan kayu, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga per empat bagian rumah sebagai dinding dan memiliki pintu masuk dibagian bawah atap, terdiri atas atap rumah atau butu uma yang terbuat dari alang-alang, 

langit-langit atau taja uma yang terbuat dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau pohon kelapa. Pada bagian tiang rumah juga digunakan kayu sebagai penyanggah, yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang-tiang uma lengge.

Uma lengge terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama dipergunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara adat, lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur, sementara itu lantai ketiga digunakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti padi dan lain-lain.

Secara geografis uma lengge berlokasi di tiga tempat yaitu di Desa Maria Kecamatan Wawo, Desa Mbawa Kecamatan Donggo dan Desa Sambori Kecamatan Lambitu. Rumah tradisional Bima khususnya di wilayah Mbawa dan Padende (Donggo) disebut Uma Leme.Dinamai demikian karena rumah tersebut atapnya lebih runcing daripada uma lengge. Di Kecamatan Donggo juga terdapat lengge, meskipun memiliki sedikit perbedaan dengan uma lengge yang ada di Sambori maupun uma lengge yang ada di Wawo.

Seiring perubahan zaman dimana masyarakat lebih memilih tinggal di rumah yang lebih luas dan nyaman maka keberadaan uma lengge ini sudah semakin terkikis dan tertinggal. Fungsinya pun sudah dialihkan sebagai lumbung padi dan terpisah dari rumah penduduk. Seperti halnya uma lengge yang ada di Desa Maria Kecamatan Wawo, uma lengge sudah ditempatkan dan dikelompokkan jauh dari areal rumah penduduk. Hal ini dimaksud untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti ketika ada kebakaran atau bencana lain. Bila rumah tempat tinggalnya terbakar maka masih ada uma lengge sebagai lumbung yang menjadi hartanya atau sebaliknya.

Uma Lengge merupakan aset budaya bima dan warisan leluhur Suku Bima yang harus dijaga dan dilestarikan untuk para generasi yang akan datang.

situs watu tunti '' patih Gajah Mada '' di Bima


(wadu tunti)
Situs Wadu Tunti terletak di Dusun Ncuhi, Desa Bumi Pajo, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Wadu Tunti atau batu tulis (wadu = batu dan tunti = tulis) adalah salah satu peninggalan zaman kerajaan jawa kuno pada saat datang ke tanah Bima. Wadu Tunti ini dipercaya oleh masyarakat setempat adalah hasil tulisan tangan oleh Patih Gajah Mada, dimana batu ini menceritakan  seorang bangsawan jawa duduk di singasana dan di kelilingi oleh dayang-dayang  dan di bawahnya terdapat seekor anjing penjaga.

Letak Desa Bumi Pajo terletak di antara perbatasan Bima dan Dompu, dalam perjalanan akan menuju ke Bumi Pajo anda akan ditemani pemandangan alam yang indah dengan udara yang sejuk dan hamparan kebun kopi yang berjejer di sepanjang jalan, karena rata-rata dari penduduk Desa Bumi Pajo adalah berprofesi sebagai  petani.

Untuk menuju Desa Bumi Pajo ke Dusun Ncuhi bekisar antara 60 meter di kaki gunung Rora, jalanan mudah di tempuh dengan memakai mobil maupun kendaraan roda dua dari Dusun Ncuhi berhubung jalannya sudah di hotmik dan beraspal, kemudian untuk menuju situ Wadu Tunti anda bisa berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor yang jaraknya dari Dusun bekisar 20 meter.

Setelah tiba di situs, mata kita akan dimanjakan dengan suasana alam yang harmonis dengan view pegunungan Donggo Soromandi.

Sangat mudah menemukan situs wadu Tunti, kita tinggal menanyakan kepada warga setempat, berhubung warga Dusun Ncuhi sangat ramah-ramah.

Kondisi situs Wadu Tunti saat ini sangat terawat, dibangun sebuah bangunan dan di pagari dengan diameter 2×5 meter, Warga setempatpun sangat menjaga Situs ini. Bagi mereka situs tersebut merupakan warisan leluhur mereka.

Banyak cerita yang menarik tentang situs Wadu Tunti ini yang berkembang di sekitar warga setempat, yang paling menarik yaitu sebagian warga Dusun Ncuhi meyakini bahwa mereka masih mempunyai silsilah darah dari Pati Gajah Mada, karena kepercayaan mereka Pati Gajah Mada berasal dari tanah Bima atau disebut dengan Dana Mbojo, karena di bukit sebelah utara Dusun Ncuhi terdapat kuburan kuno yang oleh warga setempat menganggap bahwa itu adalah kuburan Patih Gajah Mada.

Alat Tenun Daerah Bima - Dompu

Alat Tenun Daerah Bima - Dompu
                                       alat tenun daerah bima-dompu
Tenunan Bima – Dompu seluruhnya dikerjakan dengan tangan. Alat-alat yang digunakan masih tradisional yang umumnya terbuat dari bahan alam seperti kayu dan bambu. Nyaris tak digunakan bahan logam seperti besi. Alat utama dinamakan tandi. Alat ini adalah sebuah konstruksi kayu berukuran 2 x 1.5 meter tempat merentangkan benang yang akan ditenun.
  1. Tampe : Alat ini terbuat dari kayu Jati dengan panjang 1,2 Meter dan lebar 20 cm. Fungsi alat ini adalah untuk menggulung benang yang sudah di-hani.Hani adalah proses  Merentangkan dan mengatur posisi benang.
  2. Tandi : Alat ini adalah sebuah konstruksi kayu berukuran 2 x 1.5 meter tempat merentangkan benang yang akan ditenun.Ukuran Tandi dengan tinggi 30 cm, tinggi ujung  26 cm dan lebar 21 cm.
  3. Koro Besi : Alat untuk memindahkan posisi benang ( Gun Atas / Pengaturan benang). Alat ini terbuat dari besi panjang ukuran 1,46 meter yang terbuat dari besi ukuran 8 ml.
  1. Koro Kuku : Jika Koro Besi terbuat dari Besi, maka koro Kuku terbuat dari Kayu. Alat untuk memindahkan posisi benang ( Gun Atas / Pengaturan benang). Alat ini terbuat dari kayu panjang ukuran 1,46 meter.
  2. Piso Kuku : Alat yang digunakan pada saat kuku.Terbuat dari kayu panjang ukuran 1,44 cm.
  3. Pusu dan Saraja Pusu  adalah  alat sebagai tempat benang yang akan dipalet. Sedangkan Saraja Pusu adalah Alat sebagai tempat benang yang siap di hani ( Ngame/ Merentangkan dan mengatur posisi benang)
  4. Ngane : Alat Untuk Meng-hani ( Ngane/ merentangkan dan mengatur posisi benang ) benang lusi
  5. Sadike : Alat untuk mengencangkan kain agar jarak kain dan posisi sisi sama.
  1. Cau dan Sisi : Cau adalah alat untuk  Alat untuk memasukkan benang. Sedangkan Sisi adalah alat untuk memasang benang pada cau ( Sisir ). Cau memiliki panjang 2,6 cm dan lebar 9 cm.
  2. Dapo adalah alat untuk menggulung kain yang ditenun. Atau penanmpang sarung/kain yang sudah ditenun. Alat ini terbuat dari kayu jati dengan panjang 1,41 cm dan lebar 12 cm.
  3. Lira : Alat ini terbuat dari kayu pohon asam yang dalam bahasa Bima-Dompu disebut Tera Mangge. Kegunaan Alat kini adalah  untuk merapatkan benang. Panjangnya sekitar 1,41 Cm.
  4. Sadanta Lira : Alat untuk sandaran lira. Alat ini memiliki panjang sekitar 55 cm, tinggi 22 cm. terbuat dari kayu papan.
  5. Lihu : Alat ini terbuat dari kayu pohon beringin yang berfungsi sebagai penopang punggung penenun saat menenun. Panjangnya sekitar 1,45 cm.
  6. Janta : Alat ini berfungsi untuk memalet benang ( Pusu Kai Kafa ).
  7. Langgiri  : Alat untuk memasang benang yang akan di Palet.
  8. Taropo Wila : Alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan.
  9. Taliri : Alat untuk menempatkan pusu agar sama panjang dengan teropo.
dari penjelasan diatas alat tersebut bisa menghasilan Tembe Ngoli.Tembe Nggoli merupakan sarung khas Bima
yang di buat dari benang pada umumnya, keistimewaan Tembe Ngoli bila memakainya yaitu pada saat cuaca panas akan terasa dingin, sebaliknya pada saat cuaca dingin akan terasa  hangat. Tempat produksi tembe Ngoli yang terbesar di Kota Bima yaitu terletak di Raba Dompu.Raba Dompu sejak zaman kesultanan Bima tahun 1920 turut berperan  meningkatkan perekonomian kesultanan di kala itu. Tembe Ngoli di ekspor ke makassar, flores dan Jawa.

Masyarakat di Raba Dompu mempunyai kebiasaan atau Budaya lokal yaitu tiap keluarga mesti ada yang bisa menenun satu atau dua orang anak perempuan, karena sejak kecil mereka harus diajarkan menenun, sehingga sampai sekarangpun Budaya dan Rutinitas itupun masih tetap di pakai oleh masyarakat Raba Dompu untuk tetap menjaga warisan nenek moyang mereka yaitu menenun.dalam bahasa Bima yaitu Muna Tembe (menenun sarung).

Yang menarik di Raba Dompu yaitu jam 9 pagi hingga jam 1 siang suara alat tenun menggema di seluruh kampung dengan nada yang berbeda-beda, sehingga nampak seperti ada acara bagi orang yang belum pernah mengunjungi Raba Dompu.

7.21.2013

Sekilas Tentang Kerajaan Dompu

Kerajaan Dompu yang kini menjadi kabupaten Dompu merupakan sebuah kerajaan kuno di Indonesia. Kerajaan ini terletak di antara kabupaten Bima dan kabupaten Sumbawa saat ini. Mayoritas penduduk kini beragama Islam, dengan tradisi dan budaya yang juga mayoritas Islam.Bangsawan Dompu atau keturuan raja-raja hingga kini masih ada. mereka dipanggil "Ruma" atau "Dae". Istana Dompu, sebagai lambang kebesaran telah lama lenyap. Konon bangunan istana itu sudah diubah menjadi masjid raya dompu saat ini. Namun rumah kediaman raja masih ada hingga sekarang dan terletak di kelurahan Bada.

Pada tahun 2000-an, tim peneliti dari Jakarta, yang dipandu langsung oleh Bupati Dompu H Abubakar Ahmad menemukan situs berupa tapak kaki Gajah Mada di wilayah Hu'u sekitar 40 kilometer dari pusat kota Dompu Banyak yang meyakini Mahapatih Gajah Mada tewas dan atau menghabiskan sisa hidupnya di daerah ini.

Suku Dompu di pulau Sumbawa, tersebar di 4 kecamatan, yakni kecamatan Hu'u, kecamatan Dompu, kecamatan Kempo dan kecamatan Kilo.Selain suku Dompu yang mendiami pulau Sumbawa, terdapat beberapa suku lain yang juga hidup dan tinggal di pulau Sumbawa ini, yaitu suku  Bima, Donggo dan Sasak yang juga merupakan suku asli Nusa Tenggara Barat. Selain itu ada juga beberapa suku pendatang,seperti suku Melayu, Bugis, China, Arab, Bali dan Timor yang mendiami daerah tersebut.

Orang Dompu berbicara dalam bahasa Dompu, yang kadang disebut juga sebagai bahasa Mbojo.

Menurut cerita asal-usul Dompu, dahulu kala di daerah ini merupakan salah satu daerah bekas kerajaan, yaitu Kerajaan Dompu. Kerajaan Dompu diperkirakan merupakan salah satu kerajaan tua. Arkeolog dari Pusat Balai Penelitian Arkeologi dan Purbakala, Sukandar dan Kusuma Ayu, dari hasil penelitiannya menyimpulkan Kerajaan Dompu, adalah merupakan salah satu kerajaan tua di wilayah timur Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah di Dompu, sebelum adanya kerajaan di daerah Dompu ini, telah ada beberapa kepala suku yang disebut sebagai “Ncuhi” (Raja kecil).
Pada masa itu ada 4 orang Ncuhi yang berkuasa, yaitu:

  • Ncuhi Hu`u yang berkuasa di daerah Hu`u (sekarang kecamatan Hu`u) 
  • Ncuhi Saneo yang berkuasa di daerah Saneo dan sekitarnya (sekarang kecamatan Woja dan Dompu). 
  • Ncuhi Nowa berkuasa di Nowa dan sekitarnya. 
  • Ncuhi Tonda berkuasa di Tonda (sekarang wilayah desa Riwo kecamatan Woja Dompu). 

                          Dari keempat Ncuhi tersebut yang paling terkenal adalah Ncuhi Hu`u.


Masyarakat suku Dompu sebagian besar memeluk agama Islam. Sedangkan sebagian kecil ada juga yang memeluk agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha.
Para ulama bagi masyarakat suku Dompu, merupakan golongan masyarakat yang dianggap terhormat dan terpandang, selain itu ada golongan masyarakat yang terdidik dan memiliki ekonomi yang baik juga dianggap sebagai orang terhormat.

Rumah Adat Daerah Dompu
Uma Jompa (Lumbung Padi)

Uma Panggu (Rumah Panggung)
Suku Dompu memiliki bangunan rumah tradisional, yaitu Uma Jompa dan Uma Panggu. Uma Jompa berfungsi sebagai lumbung padi. Sebenarnya Uma Jompa ini tidak hanya suku Dompu yang memilikinya, masyarakat Bima juga memiliki Uma Jompa yang bahkan lebih banyak dari yang ada di                                                                  wilayah Dompu.


Sedangkan Uma Panggu,yaitu rumah yang terbuat dari kayu atau papan, yang berbentuk panggung. Uma panggu dapat dibedakan atas jenis konstruksinya, yaitu Uma Ceko yang merupakan rumah asli Dompu dan Uma Pa’a Sakolo yang dibawa masyarakat migran Bugis yang dibangun di daerah pesisir.

7.20.2013

Kesenian Tradisional Bima

Mengenal Jenis-jenis kesenian tradisional Bima

Pada masa kejayaan kesultanan Bima berbagai macam kesenian diciptakan.antara lain :
  1. Seni Musik dan Sastra
  2. Seni Tari
  3. Alat-alat musik tradisional
  4. Permainan Rakyat
Pada masa kesultanan Bima dan Dompu, seni budaya islam berkembang pesat di daerah Bima dan Dompu. Jenis seni musik islam yang sangat digemari oleh masyarakat ialah " jiki " (dzikir), terdiri dari :

  • Jiki Molu (dzikir maulud), yang dinyanyikan pada upacara perayaan maulud (ndiha molu). Dinyanyikan oleh penyanyi laki-laki tanpa alunan music.
  • Jiki rati, dinyanyikan pada upacara pernikahan, khitanan dan khataman Al Qur’an tanpa diiringi oleh musik.
  • Jiki Molu (dzikir maulud), yang dinyanyikan pada upacara perayaan maulud (ndiha molu). Dinyanyikan oleh penyanyi laki-laki tanpa alunan musik.
  • Jiki Kapanca, yang dinyanyikan pada upacara pernikahan dan khitananan.
  • Jiki Marhaba, pada masa kesultanan setiap perayaan islam antara lain aru raja to’i (idul fitri), aru raja na’e (idul adha) dan upacara Ua Pua selalu dimeriahkan oleh pegelaran seni islam seperti jiki marhaba yang berisi pujian terhadap keagungan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
  • Jiki tua, dinyanyikan oleh tokoh agama dan adat, diiringi oleh music arubana (rebana).
  • Jiki Qasida, sangat digemari di zaman kesultanan. Pada umumnya dilaksanakan setelah upacara tadarru pada malam hari.
  • Jiki Hadra, dinyanyikan oleh penyanyi laki-laki diiringi dengan aluran musik arubana. Lazimnya diadakan pada upacara pernikahan.
  • Rawa mbojo umumnya berisi syair tentang kerinduan pada kekasih, menceritakan tentang kehidupan yang susah, penyemangat, pemandangan yang indah, pujian kepada Allah dan Rasul. Sayangny, akhir-akhir ini rawa mbojo sudah tidak banyak dinyanyikan oleh masyarakat bima. Ada beberapa yang hampir punah.Rawa mbojo adalah warisan budaya leluhur masyarakat bima. Biasanya diiringi oleh alunan musik biola dan gambo. Rawa mbojo berisi pantun-pantun yang kocak dan menghibur. Rawa berarti “nyanyian” dalam bahasa bima. Rawa mbojo ditampilkan dibeberapa acara seperti upacara pernikahan tapi kadang juga dimainkan di ladang untuk menyemangati para petani dalam bekerja. Beberapa jenis rawa mbojo yang dibagi sesuai dengan irama (ntoko) dan pantun lagu (patu rawa) yaitu, Ntoko Sera, Ntoko Tambora, Ntoko Lopi Penge, Ntoko Dali, Ntoko Haju Jati, Ntoko Kanco Wanco, Ntoko Salondo Reo dan Rindo, Ntoko Jiki Maya, Teke Mpende, Sajoli, E’aule, Tembe Jao Gaomba, dan masih banyak lagi.Rawa mbojo umumnya berisi syair tentang kerinduan pada kekasih, menceritakan tentang kehidupan yang susah, penyemangat, pemandangan yang indah, pujian kepada Allah dan Rasul. Sayangny, akhir-akhir ini rawa mbojo sudah tidak banyak dinyanyikan oleh masyarakat bima. Ada beberapa yang hampir punah.
  • Biola Katipu Seni musik ini yang lebih dikenal dan digemari oleh masyarakat bima sekarang. Seni musik yang mulai berkembang tahun 2000 an ini dinyanyikan dengan iringan musik biola, katipu (ketipung), gitar bass, gambo (gambus), daf dan rawa mbojo. Biola katipu adalah perpaduan rawa mbojo dan musik dangdut. Biola katipu sangat bagus karna membawa jenis musik baru kepada masyarakat bima. Namun patut disayangkan karena lagu ini banyak yang kurang mendidik.
  • Kande adalah sejenis puisi yang digubah untuk acara pelantikan Sultan dan pejabat tinggi kesultanan. Kande berisi doa kepada Allah agar sultan dan para pejabat tinggi menjalankan tugasnya sesuai dengan ajaran Islam dan berpedoman kepada Allah dan Rasul. Kande tidak dibawakan oleh sembarang orang tetapi oleh Gelarang Ngali, Sape, dan Gelarang Ndano.Namun lagi-lagi disayangkan sedikit sekali tokoh bima yang bisa membawakan puisi ini karena itu puisi ini bisa dikatakan sudah punah dari bumi mbojo.
  • Seni Tari,Seni tradisional Bima dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Mpa’a Asi (Tarian Istana) dan Mpa’a Ari Mai Ba Asi (Tarian di luar istana) atau biasanya disebut juga Tarian Rakyat. Tarian istana terdiri dari Tari Siwe (Tarian Perempuan), yaitu mpa’a lenggo (lenggo mbojo), toja, lengsara, katubu dan karaenta. Dan Tari Mone (Tarian Laki-laki), yaitu kanja, sere, soka, manca, lenggo mone (lenggo melayu) dan mpa’a sampari. Adapun Tarian Rakyat adalah mpa’a sila, gantao, dan buja kadanda. Tarian Rakyat menunjukkan sisi kekuatan laki-laki sehingga tidak ada penari perempuan dalam tarian rakyat. Beberapa dari tarian istana dan tarian rakyat masih eksis namun banyak juga yang jarang dimainkan oleh masyarakat bima sehingga terancam punah,seperti kareku kandei.
Alat Musik Tradisional Bima


Alat-alat musik tradisional Bima terbagi atas 5 jenis, yaitu :
  1. Alat musik ufi (tiup)
  2. Alat musik bo-e (pukul)
  3. Alat musik kobi (petik)
  4. Alat music toke (dipukul dengan alat pemukul)
  5. Alat musik ndiri (gesek)

Alat musik ufi adalah Silu. Silu adalah jenis alat musik aerofon tipe hobo, karena silu memiliki lidah lebih dari satu. Lidah pada silu terdiri dari 4 lidah. Silu tebuat dari kayu sawo, perak, dan daun lontar. Saat ini, menemukan silu dan peniup silu sangat langka. Salah satu alat musik yang terancam punah adalah Sanore. Sanore adalah salah satu jenis alat musik tiup. Menurut jumlah lidahnya sarone termasuk tipe clarinet karena jumlah lidahnya hanya satu. Seperti halnya Silu sarone pun terancam punah karena tidak ada generasi penerus yang bisa meniup sarone.

Alat musik bo-e adalah Arubana. Arubana atau Rebana ini dikenal masyarakat seiring masuknya Islam di Bima. Di Lombok rebana digunakan untuk mengiringi Tari Rudat. Sedangkan di Bima, arubana digunakan untuk mengiringi jiki (dzikir) dan tari hadrah.

Alat musik kobi adalah gambo (gambus). Gambo adalah alat musik berdawai tapi tidak berlekuk seperti gitar. Gambo termasuk alat musik golongan kordofon jenis lud. Gambo terbuat dari kayu, kulit kambing, dan senar plastik.

Alat musik toke adalah Genda. Hampir semua aktifitas instrument musik Bima menggunakan Genda. Genda adalah jenis musik perkusi. Bahan untuk membuat genda adalah kayu, rotan, dan kulit kambing.

 Alat musik Ndiri (alat musik gesek) contohnya adalah biola mbojo. Biola mbojo umumnya digunakan untuk  mengiringi rawa mbojo dan biola katipu.

Permainan Tradisional


Ada beberapa permainan tradisional Bima, yaitu Tapa Gala, Ncimi Kolo, Songko Janga, dan Tutu Kalikuma. Tapa gala masih dimainkan oleh anak-anak kecil di Bima.Sedangkan Ncimi kolo, Songko janga dan Tutu kalikuma sudah jarang bahkan ditinggalkan oleh anak-anak kecil di Bima.Keadaan ini sangat memprihatinkan karena permainan-permainan rakyat yang sudah menjadi tradisi terlupakan dan ditinggalkan karena anak-anak beralih pada permainan modern.Adapun permainan Tutu kalikuma adalah permainan yang cukup terkenal di era 70 an. Nama permainan ini diambil dari nama judul lagu pengiring permainan ini. Diberi nama tutu kalikuma karena kepalan tangan anak-anak yang tersusun terlihat seperti keong.Sedangkan mpa’a songko janga adalah pernainan menebak lawan yang tertutup sarung yang terliaht seperti sangkar ayam.Dan pemain disuruh berkokok seperti ayam agar memudahkan menebak lewat suara.Lazimnya permainan ini dimainkan malam hari untuk menemani ibu atau saudara perempuan yang sedang menenun.Permainan-permainan ini sudah jarang ditemukan di Bima.








sekilas tentang kerajaan bima

Sekilas Tentang Kerajaan Bima
Kerajaan Bima dahulu terpecah–pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi.Dalam kebudayaan masyarakat bima,ncuhi adalah pemimpin tertinggi serta bertindak sebagai pimpinana wilayah dan dianggap sebagai orang sebagai orang sakti.Dengan kesaktiannya itu,para Ncuhi berfungsi sebagai pemimpin adat.

Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah di Bima Pada saat itu, antara lain :
  1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah
  2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan
  3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat
  4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara
  5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur
Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai, saling  menghormati satu sama lain dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama. Dari kelima Ncuhi ini yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima, cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra, yaitu

  • Darmawangsa
  • Sang Bima
  • Sang Arjuna
  • Sang Kula
  • Sang Dewa
Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat di sebuah pulau kecil di sebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda. Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan, yakni Kerajaan Bima dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana. Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad XIV/XV.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan